Jumat, 15 Agustus 2025

Saat Hidup Mengajarkanku Bertahan


Haloo. Salam Kenal.
Ini pertama kalinya aku memberanikan diri untuk menulis di blog ini. Entah ada angin apa akupun tak tau, mungkin ingin menghilangkan hal negatif dari pikiran (banyak anak gaul menyebutnya "Overthinking" sok iya banget aku wkwkwk) 

Tapi apa iya ya aku Overthinking-an anaknya 
Because terkadang kalau ada waktu kosong pasti sering melamun, memikirkan....
Ternyata ada ya masa di hidup ini di mana kita merasa berjalan sendirian di tengah badai. Kayak langkah itu terasa berat banget, hati penuh beban, dan dunia seakan kehilangan warna.

Ceritanya begini...
Sebenarnya ini bukan kisah yang mudah untuk ditulis, tapi aku percaya setiap cerita punya arti—meski lahir dari luka.

Aku adalah anak perempuan bungsu dari tiga bersaudara. Hampir 10 tahun sudah aku tak lagi merasakan pelukan seorang ibu. Tepatnya, sejak aku duduk di bangku kelas 2 SMP, Tuhan memanggilnya pulang. Kami adalah keluarga sederhana—tidak berlebihan, tapi cukup.
Ayahku bukan tipe yang banyak bicara. Bukan karena tidak sayang, tapi karena beliau pendiam, tertutup, jarang mengekspresikan perhatian. Banyak yang mungkin menyebutnya “introvert.” Dari beliau, aku belajar untuk memendam. Mungkin itulah mengapa aku terbiasa menyimpan perasaan sendiri, berpikir bisa menyelesaikan semuanya tanpa bantuan orang lain.

Kepergian ibu menjadi titik di mana hidup kami berubah. Kakak pertamaku sedang sakit, dan sampai hari ini—sudah lebih dari 11 tahun—penyakit itu belum benar-benar pergi. Saat itu juga, usaha ayah mulai runtuh. Hari-hari kami seperti badai yang tak kunjung reda.
Namun, di tengah semua itu, Tuhan tidak pernah pergi. Dia mengirimkan orang-orang baik untuk menolong kami, memberi kekuatan, dan penghiburan. Karena itu, meski tak jarang kami goyah, kami tetap bertahan.

Kini, ayah sudah tidak bekerja. Kakak pertamaku masih berjuang melawan sakitnya. Kakak keduaku merantau ke luar kota sejak lima tahun lalu demi membantu perekonomian keluarga. Dan aku… si bungsu… sempat mendapat berkat beasiswa dari Tuhan sehingga bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Medan, lalu bekerja di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Tetapi pada akhirnya, aku memilih pulang—meninggalkan pekerjaan demi merawat kakak pertamaku.

Hati ini sering kali terasa penuh campuran rasa: kecewa, sedih, sepi, hancur, marah, bahkan bingung. Terkadang aku ingin bercerita, tapi tak yakin orang lain akan mengerti. Lagipula, setiap orang punya lukanya sendiri.

Cerita ini bukan untuk meminta belas kasihan. Aku menuliskannya sebagai bentuk refleksi, sekaligus mengingatkan diri sendiri dan siapa pun yang membaca, bahwa dalam kondisi seberat apa pun, selalu ada alasan untuk bersyukur kepada Sang Pencipta. Karena di setiap helaan napas, selalu ada kasih-Nya yang menyertai.

Hidup mungkin tidak selalu memberi kita jalan yang mudah.
Ada waktu-waktu di mana kita harus menelan air mata sendiri, dan ada hari-hari di mana kita harus kuat saat semua terasa runtuh. Tapi aku percaya, Tuhan selalu menyisakan ruang untuk harapan.

Jika hari ini kamu merasa sendirian, ingatlah: bahkan di malam yang paling gelap pun, bintang tetap bersinar. Di antara pekatnya malam, selalu ada bintang kecil yang diam-diam menyinari jalan kita. Dan di situlah aku belajar, bahwa bertahan adalah bentuk keberanian yang paling tulus.
Mungkin kamu tidak bisa melihatnya sekarang, tapi itu tidak berarti bintang itu hilang.

Jadi, bertahanlah. Karena suatu hari nanti, semua ini akan menjadi cerita yang membuatmu bangga pernah berjuang.


Ha ha ha sok bijak banget aku 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar